Madrasahku

Madrasahku
Sholat Idul Adha

Selasa, 17 Januari 2012

KONSEP PERENCANAAN PEMBELAJARAN

KONSEP PERENCANAAN PEMBELAJARAN 

(PERTEMUAN 2 PART 1)

           Pendidikan sebagaimana termaktub dalam UU No. 20 Tahun 2003 Tentang SISDIKNAS, yakni: adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

          Perencanaan pembelajaran memegang peran penting dalam mewujudkan apa yang dicita-citakan oleh pendidikan, hal tersebut sangat erat kaitannya dengan pendidikan itu sendiri yang bersifat dinamis. Rekayasa sebuah pembelajaran sangat dibutuhkan sebagai upaya untuk mengatur dan menata agar desainer pembelajaran dapat membuat peserta didik butuh belajar, mau belajar, terdorong untuk belajar, mudah untuk belajar dan terus menerus tertarik untuk belajar.

          Hal tersebut mendorong penulis untuk sedikit berbagi tentang hal yang berkaitan dengan PERENCANAAN PEMBELAJARAN (Intruksional)

A. KONSEP PERENCANAAN PEMBELAJARAN
           Perencanaan Pembelajaran terdiri dari dua kata yaitu Perencanaan berasal dari kata rencana yang artinya pengambilan keputusan tentang apa yang harus dilaksanakan untuk mencapai tujuan.Oleh karena itu “Perencanaan” harus memiliki 4 unsur Yaitu :

1. Adanya tujuan yang harus dicapai.
2. Adanya strategi untuk mencapai tujuan
3. Sumber daya yang dapat mendukung
4. Implementasi setiap keputusan

          Kata yang kedua adalah Pembelajaran- atau ungkapan yang lebih dikenal sebelumnya dengan “Pengajaran”- adalah Upaya untuk membelajarkan siswa. (Degeng,1989). Yang menurut Muhaimin (2001, 183) kata pembelajaran lebih tepat digunakan karena menggambarkan upaya untuk membangkitkan prakarsa belajar seseorang. Disamping itu kata pembelajaran memiliki makna yang lebih dalam untuk mengungkapkan hakikat desain pembelajaran.

           Menurut Wina Sanjaya (2008, 26) Pembelajaran adalah terjemahan dari “Intruction”, kata yang sering diambil dalam pendidikan di Amerika. Hal seperti itu dikutip dari pernyataannya Gagne (1992) bahwa mengajar atau teaching adalah bagian dari pembelajaran atau instruction.

          Jadi Pembelajaran dapat diartikan sebagai proses kerja sama antara guru dan siswa dalam memanfaatkan semua potensi dan sumber yang ada baik dari dalam diri siswa maupun dari luar siswa untuk mencapai tujuan yang ditentukan.

           Dari pengertian tersebut maka konsep pembelajaran mengandung beberapa implikasi (muhaimin, 2001:183), yaitu :
  1. Perlu diupayakan agar terdapat proses belajar yang interaktif antara peserta didik dan sumber belajar yang direncanakan.
  2. Ditinjau dari sudut peserta didik terjadi proses internal interaksi antara seluruh potensi individu dengan sumber belajar.
  3. Ditinjau dari sudut pemberi rangsangan, proses ini mengandung arti pemilihan, penetapan dan pengembangan metode pembelajaran yang terbaik bagi peserta didik.

          Dari kedua kata perencanaan dan pembelajaran tersebut dapat dijabarkan bahwa perencanaan pembelajaran adalah proses pengambilan keputusan hasil berpikir secara rasional tentang sasaran dan tujuan pembelajaran tertentu, yakni perubahan perilaku serta rangkaian kegiatan yang harus dilaksanakan sebagai upaya penacapaian tujuan tersebut dengan memanfaatkan segala potensi dan sumber belajar yang ada, yang dituangkan juga dalam sebuah dokumen yang akan dijadikan sebagai acuan dan pedoman dalam pelaksanaan pembelajaran.

          Jadi dapat kita pahami bahwa karakteristik perencanaan pembelajaran adalah sebgai berikut :
  1. Perencanaan pembelajaran merupakan hasil dari proses berfikir
  2. Perencanaan pembelajaran disusun untuk mengubah perilaku siswa sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai
  3. Perencanaan pembelajaran berisi tentang rangkaian kegiatan yang harus dilaksanakan untuk mencapai tujuan.
Sebagai seorang professional maka sangat diperlukan sekali akan adanya perencanaan pembelajaran karena :
  1. Pembelajaran adalah proses yang bertujuan
  2. Pembelajaran adalah proses kerjasama
  3. Proses pembelajaran adalah proses yang komplek.
  4. Proses pembelajaran akan efektif apabila memanfaatkan berbagai sarana dan prasarana yang tersedia termasuk memanfaatkan berbagai sumber belajar
Adapun manfaat Perencanaan pembelajaran adalah :
  1. Akan mampu memprediksi keberhasilan suatu pembelajaran
  2. Sebagai alat untuk memecahkan masalah
  3. Untuk memanfaatkan berbagai sumber belajar secara tepat
  4. Pembelajaran akan berlangsung secara sistematis

Perencanaan Pembelajaran memiliki beberapa fungsi, antara lain :
  • Fungsi kreatif
  • Fungsi inovatif
  • Fungsi selektif
  • Fungsi komunikatif
  • Fungsi prediktif
  • Fungsi akuratif
  • Fungsi pencapaian tujuan
  • Fungsi control




 Bahan bacaan :

1.  Degeng, 1989, Ilmu Pengajaran Taksonomi Variabel, Jakarta : Depdikbud Dirjen Dikti
2. Muhaimin, 2001, Paradigma Pendidikan Islam, Bandung : PT. Remaja Rosda Karya
3. Slameto, 1991, Proses Belajar Mengajar dalam Sistem Kredit Semester, Jakarta : Bumi Aksara
4. UUSPN, No 20 Tahun 2003.
5. Wina Sanjaya, 2008, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran, Jakarta : Prenada Media Group

MERANCANG DAN MELAKUKAN PENILAIAN SUMATIF

MERANCANG DAN MELAKUKAN PENILAIAN SUMATIF

(PERTEMUAN KE-7)

PENILAIAN SUMATIF

Penilaian sumatif  adalah penilain yang di laksanakan pada akhir unit program, yaitu akhir catur wulan, akhir semester, dan akhir tahun. Tujuannya adalah untuk melihat hasil yang di capai   oleh para siswa, yakni seberapa jauh tujuan – tujuan kurikuler di kuasai oleh para siswa. Penilaian ini berorientasi kepada produk, bukan kepada proses. 

Manfaat penilaian sumatif bagi guru :

1.       Untuk membuat laporan kemajuan belajar siswa
2.       Menata kembali seluruh pokok bahasan dan subpokok bahasan setelah melihat hasil tes sumatif, terutama untuk materi yang belum dikuasai siswa.
3.       Melakukan penyempurnaan dan perbaikan alat penilaian tes sumatif yang telah digunakan berdasarkan hasil-hasil yang telah diperoleh siswa.
4.       Merancang program belajar siswa pada semester berikutnya berdasarkan hasil-hasil yang dicapai dari tes sumatif sebelumnya.

Baik formatif maupun sumatif semuanya akan bermanfaat bagi

1.       Guru

a. Dapat mengetahui kemampuan dirinya sebagai pengajar.
b. Mengetahui pendapat atau aspirasi para siswanya dalam berbagai hal yang berkenaan dalam belajar mengajar.

2.       Siswa

Dapat meningkatkan dan memotivasi belajar yang lebih baik lagi berdasarkan hasil penilaian mengenai cara belajar dan kesulitan belajar serta hubungan sosial

3.       Pemegang kebijakan

a.  Meningkatkan upaya-upaya pembinaan para guru dan siswa.
b.  Meningkatkan kemampuan profesional tenaga guru.
c.  Menyempurnakan penyelenggaraan pendidikan.


Bahan bacaan :   
1.      Muhaimin, 2001, Paradigma Pendidikan Islam, Bandung : PT. Remaja Rosda Karya
2.      Slameto, 1991, Proses Belajar Mengajar dalam Sistem Kredit Semester, Jakarta : Bumi Aksara
3.    Sudijono Anas, 2009, Pengntar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Rajawali Pers.
4.  Sudjana Nana , 2004, Penelitian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung : PT Remaja Rosdakarya. 
5.  Rusman, 2011, Model-model Pembelajaran, Jakarta ; Raja Grafindo Persada.  
6.   M. Atwi Suparman, Desain Instruksional (Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka, 2004).

TAKSONOMI PEMBELAJARAN

TAKSONOMI PEMBELAJARAN

Taksonomi Pembelajaran
Banyak upaya yang dilakukan ilmuwan pembelajaran dalam mengklasifikasikan variabel dalam pembelajaran, namun klasifikasi yang nampak lebih rinci dan memadai sebagai landasan pengembangan suatu teori pembelajaran seperti yang dikemukan Regeluth, dkk (1977). Klasifikasi variabel-variabel pembelajaran ini dimodifikasi menjadi 3, yaitu: (1) Kondisi Pembelajaran (2) Metode Pembelajaran (3) Hasil Pembelajaran.

1. KONDISI PEMBELAJARAN
Variabel yang termasuk ke dalam kondisi pembelajaran, yaitu variabel-variabel yang mempengaruhi penggunaan variabel metode. Oleh karena perhatian kita adalah untuk mempreskripsikan metode pembelajaran, maka variabel kondisi haruslah yang berinteraksi dengan metode dan sekaligus berada di luar kontrol perancang pembelajaran. Maksud yang terpenting dari bahasan ini adalah mengidentifikasi variabel-vriabel kondisi pembelajaran yang memiliki pengaruh utama pada ketiga variabel metode.
Atas dasar ini, Regeluth dan Merrill (1979) memandang perlu mengelompokkan variabel kondisi pembelajaran menjadi 3 kelompok yaitu: (a) Tujuan dan karakteristik bidang studi(b) Kendala dan karakteristik bidang studi dan
(c) Karakteristik peserta didik .
Tujuan pembelajaran
Pernyataan tentang hasil pembelajaran apa yang diharapkan. Tujuan ini bisa sangat umum, sangat khusus atau dimana saja dalam kontinum umum ke khusus.
Karakteristik bidang studi adalah aspek-aspek suatu bidang studi yang dapat memberikan landasan yang berguna sekali dalam mempreskripsikan strategi pembelajaran.
Kendala adalah keterbatasan sumber-sumber, seperti watu, media, personalia, dan uang. Karakteristik peserta didik adalah aspek-aspek atau kualitas peserta didik, seperti bakat, motivasi, dan hasil belajar yang telah dimilikinya.
Tujuan dan karakteristik bidang studi adalah dihipotesiskan memiliki pengaruh utama pada pemilihan strategi pengorganisasian pembelajaran, kendala dan karakteristik bidang studi pada pemilihan strategi penyampaian, dan karakteristik siswa pada pemilihan strategi pengelolaan pembelajaran.
Bagaimanapun juga, pada tingkat tertentu, mungkin sekali suatu variabel kondisi akan mempengaruhi setiap variabel metode misalnya, karakteristik peserta didik bisa mempengaruhi pemilihan strategi pengorganisasian dan pemilihan strategi penyampaian, di samping pengaruh utamaya pada strategi pengelolaan pembelajaran.

2. METODE PEMBELAJARAN
Variabel metode pembelajaran diklasifikasikan lebih lanjut menjadi 3 jenis yaitu: (a) Strategi pengorganisasian (Organizational srategy) (b) Strategi penyampaian (Delivery strategy) (c) Strategi pengelolaan (management strategy).
Organizational srategy adalah metode untuk mengorganissi isi bidang studi yang telah dipilih untuk pembelajaran. Mengorganisasi mengacu pada suatu tindakan seperti pemilihan isi, penataan isi, pembuatan diagram, format, dll. yang setingkat dengan itu.

Delivery strategy
adalah metode untuk menyampaikan materi pembelajaran kepada peserta didik dan atau menerima serta merespon masukan yang berasal dari peserta didik. Sumber belajar merupakan bidang kajian utama dari strategi ini.
Management strategy adalah metode untuk menata interaksi antara peserta didik dan variabel metode pembelajaran yang lain. Variabel strategi pengorganisasian dan penyampaian isi pembelajaran. Strategi pengorganisasian pebelajaran dibedakan menjadi strategi pengorganisasian pada tingkat makro dan mikro.
3. HASIL PEMBELAJARAN
Pada tingkat yang amat umum sekali, hasil pembelajaran dapat diklasifikasikan menjadi 3, yaitu: (a) Keefektifan (effectiveneess) (b) Efisiensi (efficiency) (c) daya tari pembelajaran.
Keefektifan Pembelajaran, biasanya diukur dengan tingkat pencapaian si-belajar. Ada 4 aspek penting yang dapat dipakai untuk mempreskripsikan keefektifan pembelajaran yaitu: (1) kecermatan penguasaan perilaku yang dipelajari atau sering disebut tingkat kesalahan (2) kecepatan unjuk kerja (3) tingkat alih belajar (4) tingkat retensi dari apa yang dipelajari.
Efisiensi Pembelajaran, biasanya diukur dengan rasio antara keefektifan dan jumlah waktu yang dipakai si-belajar dan/atau jumlah biaya pembelajaran yang digunakan.
Daya Tarik Pembelajaran, biasanya diukur dengan mengamati kecenderungan si-belajar untuk tetap/terus belajar. Daya tarik pembelajaran erat kaitannya dengan daya tarik bidang studi, dimana kualitas pembelajaran biasanya akan mempengaruhi keduanya. Itulah sebabnya pengukuran kecenderungan si belajar untuk terus dan atau tidak terus belajar dapat dikaitkan dengan proses pembelajaran itu sendiri atau dengan bidang studi.
Desain Pembelajaran
Pengembangan instruksional telah menghasilkan berbagai model, tidak semua model itu serupa. Namun demikian dari berbagai model yang ada setidak-tidaknya pengembangan instruksional mengandung elemen berikut: (1) pengumpulan data, (2) penilaian keterampilan-keterampilan masukan, (3) spesifikasi tujuan-tujuan yang bersifat behavioral atau performance test, (4) suatu prosedur untuk memilih metode dan penyajian, (5) Prosedur pelaksanaan, evaluasi dan revisi. Beberapa model pengembangan instruksonal antara lain model Kemp, Model Instruksional Development Institute (IDI), model Rowntree, model Gerlach & Ely, model Wittich & Schuller, model Walter Dick & Lou Carey dan masih banyak model pengembangan instruksional yang lain. Pada pertemuan ini saya coba samapaikan ancangan sistem pembelajaran Walter Dick & Lou Carey.
Disain ini dipilih karena (a) ancangan sistem ini adanya fokus pada awal proses, pada apa yang siswa harus tahu atau mampu lakukan pada waktu berakhirnya program pembelajaran, (b) ancangan sistem ini adanya pertautan yang seksama antar komponen, khususnya adanya hubungan antara siasat pembelajaran dan hasil belajar yang dikehendaki, (c) anacangan ini merupakan proses empirik yang sifatnya dan dapat diulangi-ulangi. Pembelajaran tidak dirancang untuk sajian sekali saja, tetapi digunakan untuk sebanyak mungkin siswa, karena dapat dipakai ulang. Adapaun disain tersebut dapat divisualisasikan sebagai berikut:
Model Perencanaan Pembelajaran Diadaptasi Dari Dick and Cary

(1) Mengidentifikasi Tujuan Pembelajaran.
Langkah pertama dalam model ini ialah menentukan apa yang diinginkan setelah siswa mengikuti pembelajaran yang dilakukan. Batasan tujuan pembelajaran dapat dijabarkan dari tujuan umum, dari penilaian kebutuhan berkenaan dengan kurikulum tertentu, dari kesulitan belajar para siswa berdasarkan pengalaman praktek, dari analisa pekerjaan, atau dari ketentuan-ketentuan lain bagi pembelajaran baru.
(2) Melakukan Analisa Pembelajaran.
Setelah mengetahui tujuan pembelajaran, langkah selanjutnya menentukan belajar jenis apa yang dituntut dari siswa. Tujuan tersebut perlu dianalisis untuk mengenali keterampilan-keterampilan bawahan/sub ordinat yang mengharuskan siswa belajar menguasainya dan langkah-langkah prosedural bawahan yang harus diikuti siswa untuk dapat belajar proses tertentu. Proses ini menghasilkan suatu peta atau bagan yang menggambarkan keterampilan-keterampilan yang ditemukan dan menunjukkan hubungan-hubungannya.

(3) Mengenali Tingkah Laku Masukan dan Ciri-ciri siswa

Di samping mengenali keterampilan-keterampilan bawahan dan langkah prosedural yang harus dimasukkan dalam pembelajaran, adalah perlu untuk mengenali keterampilan-keterampilan tertentu yang dimiliki siswa sebelum pembelajaran dimulai. Ini tidak berarti menyusun daftar semua hal yang dapat dilakukan siswa, melainkan mengenali keterampilan-keterampilan khusus tertentu yang siswa harus mampu lakukan untuk memulai pembelajaran. Penting juga untuk mengenali ciri-ciri khusus tertentu yang dimiliki siswa yang barangkali perlu dipertimbangkan dalam merancang kegiatan-kegiatan pembelajaran.
(4) Merumuskan Tujuan Performansi
Atas dasar analisis pembelajaran dan keterangan tentang tingkah laku masukan, selanjutnya menyusun pernyataan spesifik tentang apa yang akan mampu dilakukan siswa ketika menyelesaikan pembelajaran. Pernyataan yang dijabarkan dari keterampilan-keterampilan yang dikenali dengan jalan melakukan analisis pembelajaran ini perlu menyebutkan keterampilan-keterampilan yang harus dipelajari (dikuasai) siswa, kondisi perbuatan yang menunjukan keterampilan itu, dan kreteria bagi unjuk perbuatan (performansi) yang berhasil.
(5) Mengembangkan Butir-butir tes acuan Patokan.
Berdasarkan tujuan khusus yang telah dirumuskan, selanjutnya merumuskan butir-butir penilaian (assesment) yang sejajar dengan mengukur kemampuan siswa untuk mencapai apa yang dicantumkan di dalam tujuan. Tekanan utama diletakkan pada mengaitkan macam tingkah laku yang disebutkan dalam tujuan dengan apa yang diminta dari butir-butir tersebut.
(6) Mengembangkan Siasat Pembelajaran
Dengan adanya keterangan-keterangan yang didapat dari langkah-langkah sebelumnya, selanjutnya diperlukan untuk mengenali siasat yang dipergunakan dalam pembelajaran dan menentukan media mana yang cocok untuk digunakan untuk mencapai tujuan akhir. Bagian siasat pembelajaran mencakup kegiatan: pra pembelajaran, penyajian informasi, latihan dan balikan, pengetesan, dan kegiatan tindak ikutan. Siasat ini di dasarkan atas hasil-hasil penilaian tentang belajar yang terbaru, pengetahuan terbaru tentang proses belajar, isi/bahan yang harus dijabarkan, dan ciri-ciri pribadi siswa yang akan menggunakan material pembelajaran. Sifat-sifat keadaan ini dipakai untuk mengembangkan atau memilih matrial untuk maksud mengembangkan suatu siasat bagi pembelajaran kelas interaktif.
(7) Mengembangkan dan Memilih Material Pembelajaran.
Dalam langkah ini menggunakan siasat pembelajaran untuk memproduksi pembelajaran. Pada langkah ini kegiatannya meliputi buku petunjuk kerja siswa, material pembelajaran, tes dan buku pegangan guru. Keputusan untuk mengembangkan asli material pembelajaran tergantung pada jenis belajar yang akan disampaikan, adanya material yang relevan, dan sumber-sumber pengembantgan yang tersedia.
Untuk memilih diantara material-material pembelajaran yang ada dan akan dipakai sebagai kreterianya.
(8) Merancang dan melakukan Penilaian Formatif
Setelah draf kasar selesai dalam bentuk rencana disusun, langkah selanjutnya melakukan serangkaian penilaian dengan maksud mengumpulkan data yang digunakan untuk menemukan cara-cara bagaimana menyempurnakan rencana pembelajaran tersebut. Pada tiga macam penilaian formatif untuk keperluan ini yaitu: penilaian satu-persatu, penilaian kelompok kecil, dan penilaian lapangan. Setiap jenis penilaian itu memberikan keterangan yang berlain-lainan kepada perancang untuk dapat digunakan dalam pembelajaran tersebut. Teknik-teknik yang serupa dapat diterapkan untuk melakukan penilaian formatif terhadap material atau pembelajaran di kelas.
(9) Merevisi Pembelajaran
Langkkah terakhir (dan merupakan langkah pertama dalam daur ulang) ialah memperbaiki, atau merevisi pembelajaran. Data yang diperoleh dari penilaian formatif diihtisarkan dan ditafsirkan sebagai usaha untuk mengenali kesulitan-kesulitan yang dialami para siswa dalam mencapai tujuan, dan untuk menghubungkan kesulitan-kesulitan ini dengan kekurangan tertentu dalam pembelajaran. Garis pada gambaran bagan model bernama Merevisi pembelajaran menunjukan bahwa data dari penilaian formatif tidak semata-mata dipakai untuk merevisi pembelajaran itu sendiri, tetapi dipakai untuk menguji kembali kesahihan analisis pembelajaran yang dilakukan dan asumsi-asumsi tentang tingkah laku masukan serta sifat ciri siswa. Perlu juga dikaji ulang pertanyaan-pertanyaan tujuan performansi dan butir-butir soal tes dengan memperhatikan data yang terkumpul. Siasat pembelajaran perlu ditinjau kembali dan pada akhirnya semua ini dipadukan ke dalam upaya revisi pembelajaran untuk menjadikannya alat pembelajaran yang lebih berhasil guna.
(10) Melakukan Penilaian Sumatif
Adanya garis putus-putus pada gambar bagan model menunjukkan bahwa meskipun penilaian sumatif itu merupakan penilaian keefektifan pembelajaran, ini umumnya bukan bagian dari proses perancangan. Penilaian sumatif merupakan penilaian atau harga pembelajaran yang mutlak dan atau nisbi, dan dilakukan hanya setelah pembelajaran itu mengalami penilaian formatif serta direvisi dengan mestinya untuk memenuhi patokan yang ditetapkan perancangnya. Karena pelaksanaan penilaian sumatif itu biasanya tidak melibatkan perancang pembelajaran, tetapi sesungguhnya melibatkan evaluator yang independen, maka komponen ini tidak dipandang bagian terpadu dari proses perancangan pembelajaran itu sendiri

MELAKUKAN ANALISIS PEMBELAJARAN (Analysis Intructional)

MELAKUKAN ANALISIS PEMBELAJARAN
(Analysis Intructional)
(Pertemuan 3)

Analisis Intruksional adalah proses menjabarkan perilaku umum menjadi perilaku khusus yang tersusun secara logis dan sistematis, dengan demikian akan tergambar susunan perilaku khusus dari yang awal sampai yang paling akhir (Atwi Suparman, 2001 : 89)...
Perlunya melakukan analisis instruksional, agar:

Ø  Pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus diberikan lebih dahulu dari yang lain dapat ditentukan dari hasil Analisis Instruksional.
Ø  Arah kegiatan instruksional jelas terlihat secara bertahap menuju pencapaian TIU
Ø  Terhindar dari pemberian isi pelajaran yang tidak relevan dengan TIU
Ø  Daftar TIK yang disusun konsisten dengan TIU
Ø  Materi Tes terperinci
Ø  Urutan isi pelajaran sistematis
Ø  Awal pembelajaran sesuai dengan kemampuan awal siswa
Ø  Penyajian dapat disesuaikan dengan karakteristik siswa

EMPAT  Struktur Kemampuan :
1.   Struktur Hierarkikal ; Susunan beberapa kemampuan yang menunjukkan bahwa untuk mencapai satu kemampuan perlu menguasai kemampuan sebelumnya.


2.   Struktur Prosedural ; Kedudukan beberapa kemampuan yang menunjukkan satu seri kegiatan / pekerjaan, tetapi tidak ada kemampuan yang menjadi prasyarat untuk kemampuan lainnya.


3. Struktur Pengelompokan ; Beberapa kemampuan yang satu dengan lainnya tidak memiliki ketergantungan, tetapi harus dimiliki secara lengkap untuk menunjang kemampun berikutnya. 


4.  Struktur Kombinasi ; Beberapa kemampuan yang susunannya terdiri dari bentuk hirarkikal, prosedural maupun pengelompokan.


Langkah-Langkah melakukan Analisis Instruksional:
  1. menuliskan Perilaku Umum (behavior = PLU) yang ada dalam TIU
  2. menulis setiap perilaku khusus (PLK) yang menjadi bagian dari PLU tersebut (5-10 buah, tetapi dapat lebih)
  3. menyusun PLK tersebut dalam daftar urutan logis, dimulai dari PLU, PLK yang paling dekat hubungannya dengan PLU, sampai yang paling jauh
  4. menambah atau mengurangi PLK jika perlu. Usahakan untuk melengkapi PLK tersebut.
  5. menulis setiap PLK dalam selembar kertas berukuran 3x5 cm
  6. menyusun kartu-kartu dalam struktur hirarkikal (urutan vertikal), prosedural (sejajar atau horizontal) dan pengelompokan menurut kedudukan yang satu dengan yang lain.
  7. bila perlu, tambahkan lagi PLK lain, atau kurangi bila berlebihan.
  8. gambarkan PLK-PLK tersebut dalam kotak-kotak di atas kertas lebar. Hubungkan kotak-kotak dengan garis vertikal (dengan tanda panah ke atas) untuk struktur hirarkikal atau horizontal (dengan tanda panah ke kanan) untuk struktur prosedural atau pengelompokan (garis hubung tanpa tanda panah)..
  9. meneliti kemungkinan menghubungkan dengan PLU lain (bila ada), dan PLK di bawahnya.
  10. memberi nomor urut pada setiap PLK, sampai PLK yang terdekat PLU.
  11. mengkonsultasikan dengan teman atau tutor.

***

Mengidentifikasi Perilaku dan Karakteristik Awal Siswa

                Bagi setiap pengajar, mengetahui perilaku dan karakteristik awal siswa diperlukan dalam menyusun tujuan instruksional. Menurut Deterline (1965), teknologi instruksional merupakan aplikasi teknologi perilaku untuk menghasilkan perilaku khusus secara sistematik dalam rangka mencapai tujuan instruksional. Keadaan awal siswa yang heterogen dengan latar belakang serta kemampuan yang berbeda-beda akan jadi penghambat bagi proses pencapaian tujuan instruksional bila sejak awal pengajar tidak mengidentifikasi perilaku dan karakteristik siswa yang akan diajar.
                Perilaku awal siswa merupakan suatu kemampuan yang telah dimiliki siswa sebelum mempelajari suatu materi yang baru. Kemampuan dapat berupa pengetahuan, keterampilan atau sikap yang berkaitan dengan materi yang akan dipelajari. Sedangkan karakteristik awal siswa merupakan potret atau gambaran kemampuan siswa yang berkenaan dengan latar belakang siswa. Artinya, guru harus mempertimbangkan materi dan strategi yang cocok dengan apa yang dibutuhkan siswa.
                Untuk mengatasi hal ini, ada tiga pendekatan yang dapat dipilih. Pertama , siswa menyesuaikan dengan materi pelajaran, dan kedua sebaliknya, materi pelajaran disesuaikan dengan siswa  dan yang ketiga adalah pendekatan kombinasi.
Ø Pendekatan pertama, siswa menyesuaikan dengan materi pelajaran, dapat dilakukan sebagai berikut:
1.   Seleksi penerimaan awal:
a. Pada saat pendaftaran siswa diwajibkan memiliki latar belakang pendidikan yang relevan dengan   program pendidikan yang akan diambilnya.
b. Setelah memenuhi syarat pendaftaran di atas, siswa mengikuti tes masuk dalam pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan program pendidikan yang akan diambilnya.
2.   Tes dan pengelompokkan siswa:
3.   Lulus mata pelajaran prasyarat
Ø Pendekatan kedua, materi pelajaran disesuaikan dengan siswa. Pendekatan ini hampir tidak memerlukan seleksi penerimaa siswa.
Ø Pendekatan ketiga  yang mengkombinasikan kedua pendekatan diatas mempunyai ciri sebagai berikut :
1. Menyeleksi penerimaan siswa atas dasar latar belakang pendidikan atau ijazah seleksi ini biasanya lebih   besifat administratif.
2. melaksanakan tes untuk mengetahui kemampuan dan karakteristik awal siswa tes ini tidak digunakan sebagai alat menyeleksi siswa, tetapi untuk dijadikan dasar penyusunan bahan  pelajaran.
3.  Menyusun bahan instruksional yang sesuai dengan kemampuan dan karakteristik awal siswa.
4. Menggunakan sistem instruksional yang memngkinkan siswa maju menurut kecepatan dan kemampuan masing – masing.
5. Memberikan supervisi kepada siswa secara individual.
                Jadi, mengidentifikasi perilaku dan karakteristik awal siswa/peserta didik dan lingkungan adalah bertujuan untuk menentukan garis batas antara perilaku yang tidak perlu diajarkan dan perilaku yang harus diajarkan kepada siswa/peserta didik. Perilaku yang akan diajarkan ini kemudian dirumuskan dalam bentuk tujuan instruksional khusus atau TIK.
                Untuk melakukan kegiatan indentifikasi perilaku dan karakteristik awal siswa, maka kita harus mengetahui sumber yang dapat memberikan informasi kepada pendesain instruksional yang antara lain adalah :  1. Siswa; 2. Guru atau atasannya; 3. Pengelola pendidikan.
                Beberapa Komponen yang dapat dianalisis dalam kegiatan Menganalisis Karakteristik Awal Siswa meliputi:
a.    Pengalaman siswa
b.    Pengetahuan siswa
c.     Kegemaran siswa
d.    Kondisi fisik siswa
e.    Lingkungan keluarga siswa
f.     Lingkungan sosial
g.    Status sosial siswa
                Teknik yang dapat digunakan dalam mengidentifikasi karakteristik awal siswa sama dengan teknik yang digunakan dalam mengidentifikasi perilaku awal, yaitu
a.    Kuesioner: bisa  berupa tes yang  berisi pertanyaan
b.    Interview: wawancara secara terstruktur
c.     Observasi: pengamatan terhadap proses pembelajaran         
d.    Tes: secara lisan atau tulisan (objektif dan essay)