Madrasahku

Madrasahku
Sholat Idul Adha

Rabu, 13 Juni 2012

FOTO KEGIATAN



FOTO KEGIATAN

FOTO DIRI

FOTO DIRI

FOTO KEGIATAN

FOTO KEGIATAN

MATERI MAPEL AQIDAH AKHLAK KLS 9 SMT 2

MATERI MAPEL AQIDAH AKHLAK KLS 9 SMT2
 
PEMBELAJARAN  KE - 3

IMAN KEPADA QADHA DAN QADAR

A.    PENDAHULUAN

STANDAR KOMPETENSI
Meningkatkan keimanan kepada  Qadha dan Qadar

KOMPETENSI DASAR
1.   Menjelaskan pengertian beriman kepada Qadha dan Qadar
2.   Menunjukkan bukti atau dalil akan adanya Qadha dan Qadar
3.   Menjelaskan berbagai tanda dan peristiwa yang berhubungan dengan Qadha dan Qadar
4.   Menunjukkan ciri-ciri perilaku orang yang beriman kepada Qadha dan Qadar
5.   Menampilkan perilaku yang mencerminkan keimanan kepada kepada Qadha dan Qadar

PENDEKATAN  PEMBELAJARAN
Pendekatan  pembelajaran yang digunakan adalah CTL (Contextual Teaching and Learning)
     LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN
1.      Pendidik menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai
2.      Pendidik menjelaskan materi tentang beriman kepada Qadha dan Qadar Allah SWT
3.      Peserta didik mendiskusikan pengertian tentang Qadha dan Qadar Allah SWT
4.      Peserta didik mendiskusikan tentang bukti/dalil-dalil tentang kebenaran adanya Qadha dan Qadar Allah SWT
5.      Peserta didik menelaah berbagai literature untuk menjelaskan berbagai tanda dan peristiwa yang berhubungan dengan Qadha dan Qadar
6.      Peserta didik mendiskusikan ciri-ciri perilaku orang yang beriman kepada Qadha dan Qadar
7.      Peserta didik membiasakan berperilaku sebagai orang yang beriman kepada Qadha dan Qadar
8.      Pendidik  menyebutkan contoh perilaku orang yang beriman kepada Qadha dan Qadar dalam kehidupan sehari-hari
9.      Pendidik menilai perilaku peserta didik dalam pergaulan sehari-hari
10.  Pendidik menilai hasil kerja siswa yang telah dikerjakan

B.     INTI
1.  ESKPLORASI
a.  IFTITAH
Kita dapat melihat diri kita sendiri dengan mudah. Warna kulit, wajah, rambut, tinggi badan dan sebagainya. Lalu kita melihat orang lain ternyata orang lain berbeda dengan kita, baik warna kulit, maupun bentuk tubuh. Kita berbeda dengan orang Belanda, Arab, Perancis, dan sebagainya. Ternyata setiap manusia punya ukuran dan ketentuan masing-masing.
Kita juga melihat bahwa ada orang yang  pandai ada pula yang kurang pandai. Ternyata orang-orang yang pandai itu selalu disiplin menepati jadwal yang telah dibuatnya, sehingga ia pandai membagi waktu untuk belajar, beribadah, bermain dan beristirahat. Waktu untuk bermain hanya terbatas, sementara waktu belajar lebih banyak .
Ada yang kaya ada pula yang tidak terlalu kaya atau miskin. Ternyata orang yang kaya bekerja lebih rajin, tidak bermalas-malasan dan tidak pantang menyerah. 
Mengapa semua itu terjadi? Siapa yang menyebabkan dan mengaturnya? Dialah Allah SWT, yang membuat hukum dan ketentuan. Hukum dan ketentuan Allah SWT itu disebut Qadha dan Qadar. Orang yang mengaku Islam harus percaya adanya Qadha dan Qadar Allah karena dia merupakan rukun iman yang ke enam.

b. TANBIH
QS Al-Qamar: 49

Artinya:
Sesungguhnya, Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (QS Al-Qamar/54: 49)
   
c.  ISTIFHAM
1)      Tahukan kalian pengertian tentang iman kepada Qadha dan Qadar Allah SWT?
2)      Sudah hafalkah kalian dalil-dalil tentang kebenaran adanya Qadha dan Qadar Allah SWT?
3)      Sudah tahukah kalian tanda-tanda dan peristiwa yang berhubungan  dengan Qadha dan Qadar Allah SWT?
4)      Tahukah kalian ciri-ciri perilaku orang yang beriman kepada Qadha dan Qadar Allah SWT ?
5)      Sudah biasakah kalian berperilaku yang mencerminkan orang yang beriman kepada Qadha dan Qadar Allah SWT ?
 
2.  ELABORASI  (URAIAN MATERI)

a.      Pengertian Qadha dan Qadar
Pengertian qadha menurut bahasa adalah ketentuan atau ketetapan. Sedangkan menurut istilah adalah ketetapan atau ketentuan Allah sejak zaman azali, yang belum diketahui dan belum diterima oleh makhluk-Nya.
Secara bahasa qadar berarti mengukur, memberi kadar atau ukuran. Secara istilah qadar berarti ketentuan atau ketetapan yang telah ditentukan oleh Allah atas makhluk-Nya dan telah diterima serta telah berlaku bagi makhluk-Nya.  
b.      Pengertian beriman kepada Qadha dan Qadar
Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa beriman kepada qadha dan qadar berarti kita meyakini dengan sepenuh hati bahwa segala yang terjadi di dunia ini sesuai kehendak Allah dan sesuai dengan aturan yang diciptakan-Nya. Dalam memahami pengertian qadha dan qadar harus dilandasi dengan iman dan ilmu yang benar karena jika tidak kita akan terperangkap pada pemahaman yang salah. Misalnya kita beranggapan bahwa nasib baik dan buruk seseorang telah ditentukan oleh Allah secara pasti sehingga manusia hanya sebagai pelaksana tanpa memiliki sedikit pun peran dalam menentukan nasibnya. Oleh sebab itu kita perlu memahaminya secara baik dan benar sesuai dengan ayat-ayat Al-Qur’an.
c.  Bukti atau dalil kebenaran adanya Qadha dan Qadar
Di dalam Al-Qur’an diterangkan tentang iman kepada qadha dan qadar pada banyak ayat, 3 di antaranya adalah:
1)      Surat Al-Ahzab ayat 36:
Artinya:
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya Telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya Maka sungguhlah dia Telah sesat, sesat yang nyata.( QS. Al-Ahzab/33: 36)

Ayat tersebut di atas menerangkan kepada kita tentang qadha atau ketetapan hukum.
2)      Surat Al-Furqan ayat 2:
Ï%©!$#r öNs9ur `ä3tƒ ¼ã&©! Ô7ƒÎŽŸ°
Îû Å7ù=ßJø9$# t,n=yzur ¨@à2 &äóÓx« ¼çnu£s)sù #\ƒÏø)s?
Artinya:
Yang kepunyaan-Nyalah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan(Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya. (QS. Al-Furqan/25: 2)

Pada ayat di atas qadar berarti ukuran atau aturan yang diciptakan Allah dan manusia terikat oleh aturan tersebut.

3)      Surat Ar-Ra’d ayat 8:
ª!$# ãNn=÷ètƒ $tB ã@ÏJøtrB @à2 4Ós\Ré& $tBur âÙÉós? ãP$ymöF{$# $tBur ߊ#yŠ÷s? (
@à2ur >äóÓx« ¼çnyYÏã A#yø)ÏJÎ/
Artinya:
Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, dan kandungan rahim yang kurang sempurna dan yang bertambah dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya(QS. Ar-Ra’d/13: 8)
Dari ayat tersebut di atas dan dari ayat-ayat lainnya dapat dipahami bahwa semua makhluk telah ditetapkan takdirnya. Peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam raya ini dari sisi kejadiannya, dalam kadar atau ukuran tertentu, pada tempat dan waktu tertentu itulah yang disebut takdir. Mereka tidak dapat melampaui batas ketetapan itu dan Allah menuntun serta menunjukkan kepada mereka arah yang seharusnya mereka tuju. Hal ini bisa dilihat pada Al-Qur’an surat Al-A’la/87: 1-3 sebagai berikut:
ËxÎm7y zOó$# y7În/u n?ôãF{$# ÇÊÈ Ï%©!$# t,n=y{ 3§q|¡sù ÇËÈ Ï%©!$#ur u£s% 3yygsù ÇÌÈ
Artinya:
Sucikanlah nama Tuhanmu yang Maha Tingi, yang menciptakan dan menyempurnakan (penciptaan-Nya), dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk.(QS. Al-A’la/87: 1-3)

d.      Contoh Peristiwa yang Berhubungan dengan Qadha dan Qadar
Untuk memperjelas pemahaman tentang Qadha dan Qadar, berikut ini  disajikan beberapa contoh sebagai berikut:
1)      Allah berkehendak menciptakan manusia sebagai khalifah (pemimpin) di bumi. Ketetapan ini sebagai qadha-Nya. Untuk mewujudkan kehendak-Nya, Allah membekali ciptaan-Nya tersebut dengan akal pikiran. Namun demikian manusia tetap memiliki kemampuan yang terbatas sesuai dengan ukuran yang diberikan kepadanya. Misalnya, manusia tidak dapat terbang. Ini merupakan batas kemampuan yang dianugerahkan Allah kepadanya, manusia tak bisa melampauinya, kecuali jika ia menggunakan akalnya untuk menciptakan suatu alat. Namun akalnya pun mempunyai ukuran yang tidak mampu dilampaui. Manusia berada di bawah hukum-hukum Allah sehingga yang kita lakukan juga tidak terlepas dari hukum-hukum-Nya. Tetapi karena hukum-hukum tersebut cukup banyak dan kita diberi kemampuan memilih, maka kita dapat memilih yang mana di antara takdir yang telah ditetapkan Allah terhadap alam yang kita pilih. Api ditetapkan panas dan membakar; sedangkan angin dapat menimbulkan kesejukan atau dingin. Itu takdir Allah, manusia boleh memilih api yang membakar atau angin yang sejuk. Di sinilah pentingnya pengetahuan dan perlunya petunjuk dari Allah.
2)      Allah SWT menentukan bahwa si Abdullah menjadi seorang presiden di negara Indonesia. Ketentuan tersebut merupakan qadla Allah SWT. Untuk mendukung ketentuan Allah SWT tersebut, maka Allah SWT memberikan kemampuan/potensi kepada Abdullah  sebagai seorang presiden. Proses si Abdullah dari awal sampai terpilihnya ia menjadi seorang presiden disebut ikhtiar. Faktor – faktor yang mendukung ia menjadi seorang presiden bukanlah suatu kebetulan, tetapi termasuk bagian dari ketentuan Allah SWT. Sedangkan  ketika ia telah terpilih menjadi seorang presiden merupakan qadar Allah SWT.
Para ulama’ membagi takdir, ada dua, yaitu takdir muallaq dan takdir mubram. Takdir muallaq  erat kaitannya dengan usaha manusia, sedangkan takdir mubram mutlak merupakan kehendak Allah sebagai Sang Khaliq.  Selengkapnya dibahas pada  hubungan qadla, qadar, ikhtiar, dan tawakal.


Tugas
Ketika di suatu daerah sedang terjadi wabah penyakit yang membahayakan, sedangkan kita mempunyai satu kepentingan yang mengharuskan mendatangi daerah itu, bolehkah kita mengurungkan rencana tersebut karena khawatir terjangkit penyakit? Diskusikan dengan teman sebangkumu!
 



e.       Ciri-ciri Perilaku Orang yang Beriman kepada Qadha dan Qadar
Orang yang terbaik di sisi Allah SWT bukanlah orang yang tidak pernah mendapatkan ujian-ujian dari Allah,  tetapi justru orang yang sering mendapat ujian dari-Nya. Hamba-hamba Allah yang  termasuk Ulul Azmi adalah contoh manusia-manusia yang sabar dan tabah dalam menghadapi segala hambatan,  tantangan  dan ujian yang diberikan Allah SWT.
Sebagai orang yang beriman kepada Allah, sikap yang terbaik dalam menghadapi setiap Qadha dan Qadar Allah SWT adalah sebagai berikut:
1)      Sabar
Sabar dalam pengertian luas adalah menahan diri dalam menanggung suatu penderitaan, baik dalam menemukan sesuatu yang tidak diinginkan maupun dalam bentuk kehilangan sesuatu yang disenangi. Para ahli tasawuf membagi kesabaran dalam tiga macam, yaitu: sabar dalam menghadapi musibah, sabar dalam menjalankan kewajiban dari Allah SWT dan sabar dalam menahan diri untuk tidak melakukan segala maksiat.
Sikap manusia yang benar keimanannya adalah sikap yang sabar dalam menerima ujian dan cobaan dari Allah SWT. Keimanan  itu akan diuji oleh Allah SWT dengan cobaan-cobaan, siapa yang benar keimanannya dia akan menerima bahwa Allah SWT memang menguji dirinya dengan cobaan-cobaan itu. Dan Allah tidak memberi ujian di luar batas kemampuan manusia meskipun kelihatannya berat bahkan kadangkala bertubi-tubi (tak henti-henti). Dan jika kita bisa melampaui semua ujian tersebut Allah akan mengangkat derajat kita lebih tinggi.
Firman Allah di dalam surat al-Baqarah ayat 155-157:


Artinya:
 Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan,  kekurangan harta,  jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah,  mereka mengucapkan “Innalillahi wainna ilaihi raji’un”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka. (QS Al-Baqarah/1: 156-157)

2)      Tidak putus asa
Salah satu watak dasar manusia adalah sering berkeluh kesah. Ketika diberikan kecukupan rizki, kebanyakan orang tidak bersyukur,  namun apabila diberi sedikit ujjian dia akan berputus asa. Jika seorang mukmin putus asa dalam menerima ujian dari Allah SWT, sesungguhnya keimanannya itu telah rapuh. Maka ujian iman itu merupakan barometer (alat ukur) untuk menilai kadar keimanan seseorang. Misalnya seorang mukmin mendapat cobaan dari Allah SWT berupa kekurangan harta, ia berputus asa dengan tidak bekerja keras, bahkan melakukan pekerjaan haram untuk memenuhi hajat hidupnya. Jalan yang ditempuhnya menunjukkan keputusasaan dia dalam menerima takdir Allah SWT. Atau ada seorang pelajar kebetulan kemampuanya relatif tertinggal dengan teman sekelasnya, dia putus asa, dia enggan belajar dengan sungguh-sungguh, bahkan selalu menyiapkan contekan sebelum ulangan/ujian.
Gambaran di atas menunjukkan lemahnya iman menghadapi ujian dari Allah SWT. Firman Allah di dalam surat Al-Ankabut ayat 2-3 :


Artinya:
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan saja mengatakan “kami beriman” sedang mereka tidak diuji (keimanannya) dan sesungguhya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka,  maka sesungguhnya Allah SWT mengetahui orang-orang yang benar, dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta (keimanannya)”. (Q.S. Al-Ankabut/29: 2-3)

Juga disebutkan di dalam surat  Az-Zumar ayat 53:


Artinya:
Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang melampui batas terhadap mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah SWT. Sesungguhnya Allah SWT mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Q.S. Az-Zumar/39: 53)

3)      Ikhlas dan tidak takabur
Ikhlas artinya tulus, sepenuh hati menerima sesuatu. Dalam hubungan dengan qadha dan qadar, yang dimaksud ikhlas adalah menerima segala ketentuan Allah SWT dengan ridha. Maksud ridha di sini adalah hendaknya kita bersyukur jika takdir yang terjadi pada kita adalah sesuatu yang menggembirakan dan kita bersabar atau tabah jika yang menimpa kita adalah sesuatu yang merugikan. Misalnya kita tidak lupa daratan, kufur, takabur, kikir dan sebagainya jika mendapt nikmat karunia. Sebaliknya kita tidak bekeluh kesah apalagi berputus asa bila ditimpa suatu musibah/malapetaka. Ridha terhadap qadha dan qadar hukumnya wajib. Dasarnya adalah hadis Qudsi berikut:
عَنْ أَبِي هِنْدٍ الدَّارِيِّ الْحَجَّامِ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى:مَنْ لَمْ يَرْضَ بِقَضَائِي وَيَصْبِرْ عَلَى بَلائِي فَلْيَلْتَمِسْ رَبًّا سِوَايَ (. رواه الطبراني)
Artinya:   
Dari Abi Hindun Ad Dari Al Hajami berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW Bersabda: Allah  berfirman: Barangsiapa yang tidak ridha terhadap qadla-Ku dan tidak sabar menerima cobaan-Ku, maka carilah olehmu Tuhan selain Aku.(HR Ath-Thabrani)      

4)      Tawakkal
Secara bahasa tawakkal berarti berserah diri, sedangkan secara istilah berarti berserah diri kepada qadha dan qadar Allah SWT setelah berusaha (ikhtiar) sekuat mungkin sesuai dengan kewajibannya sebagai manusia. Firman Allah di dalam surat At-Thalaq ayat 3:


Artinya:
Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah,  maka Allah SWT akan mencukupkan (keperluannya ) (QS At-Thalaq/65: 3)

5)      Mendorong manusia bekerja keras untuk mengubah nasib

Jika manusia sadar bahwa kebahagiaan tidak datang begitu saja melainkan harus diusahakan dan diperjuangkan maka dia akan khawatir jika tidak berusaha secara sungguh-sungguh walaupun yang datang kadangkala bukan kebahagiaan tetapi sesuatu yang menyusahkan. Sebab itu manusia harus bekerja keras sebagaimana firman Allah di dalam surat Al-Qashash:
Æ÷tGö/$#ur !$yJÏù š9t?#uä ª!$# u#¤$!$# notÅzFy$# ( Ÿwur š[Ys? y7t7ŠÅÁtR šÆÏB $u÷R9$# (

Artinya:
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.(QS Al-Qashash/28: 77)

TUGAS!
Kamu pernah mengalami kegagalan yang sungguh menyedihkan hati. Sebagai orang yang beriman kepada qadha dan qadar Allah, tindakan apa yang kamu lakukan? Paparkan secara jelas langkah-langkah yang kamu lakukan!
 
Dengan demikian, kita sebagai mukmin hendaknya siap menghadapi cobaan-cobaan yang merupakan ujian keimanan kita. Maka kesabaran, ketabahan dalam menghadapi segala masalah di dunia ini merupakan jalan untuk memupuk dan memperkuat keimanan. Setiap kejadian yang menimpa sesorang pasti akan mendatangkan hikmah bagi pelakunya ataupun bagi orang lain. Hanya saja, hikmahnya akan diketahui kemudian hari.





f.    Hubungan Qadha,  Qadar,  Ikhtiar,  dan Tawakal
Hubungan qadha dan qadar tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Hubungan antara qadha dan qadar ibarat hubungan antara ketentuan-ketentuan rencana Allah SWT dengan pelaksanaan rencana tersebut atau dengan kata lain rencana Allah SWT dinyatakan dalam qadha, sedangkan pelaksanaan atau perwujudannya dinamakan qadar (takdir).
Para ahli kalam pada abad pertengahan hijriyah sering terlibat dalam diskusi,  apakah manusia dalam setiap geraknya berhubungan dengan takdir? Ataukah ada kebebasan manusia yang diberikan Allah SWT agar berbuat jelek dan baik? Apakah manusia selalu dipaksakan dengan kehendak Allah SWT, ataukah diberikan kekebasan menentukan pilihannya sendiri? Jawabnya adalah perpaduan dari keduanya.
Di sinilah ikhtiar atau usaha berperan. Ikhtiar adalah usaha manusia untuk mencapai sesuatu yang diharapkan. Usaha ini untuk mencapai sesuatu yang lebih baik di dunia dan akhirat. Misalnya: orang yang ingin sehat, maka dia berusaha menjaga kondisi fisiknya baik dengan makan, tidur dan olah raga yang teratur. Jika ingin sembuh dari sakit harus rajin minum obat,  jika ingin pandai harus belajar,  jika ingin kaya maka harus bekerja keras dengan cara yang baik dan halal, jika tidak ingin kecelakaan harus mentaati rambu-rambu lalu lintas, dan sebagainya. Jadi pandai, sehat, kaya adalah sesuatu yang diinginkan sedangkan belajar, makan, tidur, minum obat adalah cara yang ditempuh untuk mencapai tujuan. Cara atau usaha inilah yang dianamakan ikhtiar.
Namun seringkali sesuatu yang kita peroleh tidak sesuai dengan usaha yang sudah kita laksanakan. Sehingga sebagai seorang mukmin yang taat jika menjumpai hal-hal yang tidak sesuai dengan yang kita harapkan maka kita pasrahkan semuanya kepada Sang Pencipta yaitu Allah SWT agar tidak sedih berkepanjangan. Namun kita tetap optimis, tidak putus asa dan senantiasa berusaha keras agar hal-hal yang kita inginkan tercapai. Bukankah hanya kepada-Nya kita mohon pertolongan dan hanya kepada-Nya pula kita berserah diri (bertawakkal)?
Dalam hubungan antara qadha, qadar dan ikhtiar ini para ulama berpendapat bahwa taqdir terbagi menjadi dua, yaitu: takdir mubram dan takdir muallaq.
1) Takdir mubram
Takdir mubram yaitu takdir yang tidak dapat diubah atau diusahakan oleh manusia. Semua terjadi semata-mata karena kekuasaan Allah Yang Maha Perkasa.
Adapun contohnya adalah kematian. Pak Surya sakit parah, walaupun sudah berikhtiar berobat ke dokter ahli baik di dalam maupun di luar negeri jika Allah menentukan ajalnya tiba maka tak ada yang bisa menolongnya. Pak Suryapun akhirnya meninggal dunia. Dan pada kasus yang lain, seseorang yang tertimpa reruntuhan bangunan karena terjadi gempa bumi yang sangat dahsyat  hingga  terluka parah, patah kaki dan tangannya jika belum sampai ajalnya maka dia tidak mati.
Hal ini sesuai dengan firman Allah di dalam surat Yunus ayat 49 yang berbunyi:
#sŒÎ) uä!%y` óOßgè=y_r& Ÿxsù tbrãÏø«tFó¡tƒ Zptã$y ( Ÿwur tbqãBÏø)tFó¡o
Artinya:
Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) memajukan(nya). (QS Yunus/10: 49)

2) Takdir muallaq
Takdir muallaq yaitu takdir yang erat kaitannya dengan usaha manusia. Artinya takdir itu terjadi berkaitan dengan usaha manusia.
Dalam hal ini dapat diambil contoh keadaan manusia karena usaha kerasnya hingga menjadi orang yang sukses dan kaya, usaha ingin tetap sehat dengan cara rajin berolah raga, usaha temanmu yang sangat rajin belajar sehingga menjadi yang terpandai di kelasnya, dan sebagainya.
Sesuai dengan firman Allah di dalam surat An-Najm ayat 39, sebagai berikut: